Main Article Content

Abstract

Cadangan minyak bumi semakin menipis, hal ini disebabkan meningkatnya ekonomi dan pertumbuhan penduduk sejalan dengan menigkatnya komsumsi energi. Selain itu juga  disebabkan oleh meningkatnya jumlah kendaraan  transportasi. Ketergantungan energi listrik dengan bahan bakar fosil, khususnya batubara di provinsi Lampung, dinilai masih cukup besar. Batubara sendiri diperkirakan dapat bertahan hingga 70 tahun mendatang, sementara cadangan batubara global diperkirakan akan habis sekitar 109 tahun kedepan dengan demikian diupayakan lebih intensif ke arah diversifikasi energi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, dan biomassa yang paling banyak dan berpotensi di Indonesia adalah kelapa sawit. Pada penelitian ini, kegiatan eksperimen melakukan pengujian produk limbah tandan kosong kelapa sawit yang dihasilkan oleh reaktor torefaksi kontinu tipe tubular menggunakan sistem pemanas oil jacket sebagai media torefaksi. Pengujian proksimat menunjukan bahwa semakin tinggi kandungan fixed carbon akan meningkatkan nilai kalor dari produk padatan hasil torefaksi, semakin meningkatnya temperatur pada proses torefaksi maka produk tandan kosong kelapa sawit semakin mempunyai emisi dan mempunyai sifat hydrophobic yang baik, nilai kalor produk padatan hasil torefaksi tandan kosong kelapa sawit berkisar antara 16357.23 – 21083.98 kJ, setara dengan batubara subbituminous C yang memiliki nilai kalor sebesar 19300 – 2100 kJ.

Keywords

karakteristik bahan bakar padat torefaksi limbah kelapa sawit

Article Details

How to Cite
Wahyudi, R., Amrul, A., & Irsyad, M. (2020). Karakteristik Bahan Bakar Padat Produk Torefaksi Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit Menggunakan Reaktor Torefaksi Kontinu Tipe Tubular. INVOTEK: Jurnal Inovasi Vokasional Dan Teknologi, 20(2). Retrieved from http://invotek.ppj.unp.ac.id/index.php/invotek/article/view/706

References

  1. [1] Amrul. 2014. Pemanfaatan Sampah Menjadi Bahan Bakar Padat Setara Batubara Melalui Proses Torefaksi. Disertasi Institut Teknologi Bandung. Bandung.
  2. [2] Basu Pabir. 2013. Biomass Gasification, Pyrolysis, and Torrefaction: Practical Design and Theory, Second Edition. Elsevier, Oxford, UK.
  3. [3] Basu Pabir dan Dhungana A. 2013. An Investigation Into the Effect of Biomass Particle Size on its Torrefaction. Chem. Eng.
  4. [4] Badan Pusat Statistik. 2019. Buku Informasi Statistik. Jakarta Badan Pusat Statistik. (bps.go.id)
  5. [5] Bergman P.C.A., A.R. Boersma, J.H.A. Kiel, M.J. Prins, K.J. Ptasinski dan F.J.J.G. Jansen. 2005. Torrified Biomass for Entrained-Flow Gasification of Biomass. Report ECN-C-05-026.
  6. [6] BPPT. 2017. Outlook Energy Indonesia 2017;Inisiatif Pengembangan Teknologi Bersih. Jakarta.
  7. [7] Dengyu Chen, Anjiang Gao, Zhongqing Ma, Dayi Fei, Yu Chang, Chao Shen. 2017. In-depth study of rice husk torrefaction: Characterization of solid, liquid and gaseous products, oxygen migration and energy yield. Bioresource Technology. China
  8. [8] Outlook Energy Indonesia. 2015, Jakarta, Dewan Energy Nasional
  9. [9] Tumuluru jaya Shankar, J Richard Hess, Shahab Sokhansanj, Christopher T Wright. 2011. A review on biomass torrefaction process and product properties for energy applications. Industrial Biotechnology.